Chapter 0674 - Pengunjung Di Atas Geladak
"Betapa
indahnya dunia ini!"
Di
geladak kapal kesepuluh, seorang penyihir air berseru dengan penuh semangat.
"Iya,
memang indah," sahut sang pendekar di sampingnya, meski suaranya datar
tanpa gairah.
Seketika, penyihir itu menoleh tajam padanya.
"Abel, kamu selalu begitu. Suka bersikap sinis dan
hanya bilang hal yang menyebalkan. Kalau sedikit lebih jujur, orang-orang pasti
akan lebih mudah mengikutimu”
"Aku
juga menganggap pemandangan di luar geladak ini indah, sungguh. Itu aku akui
sepenuh hati. Tapi waktu kau bilang 'dunia', bukankah itu juga termasuk yang
ada di atas geladak ini? Lihatlah, di sini..”
Di
atas geladak, empat sosok tampak sedang mengadakan pesta minum kecil. Mereka
jelas sudah mabuk berat. Bukan para awak kapal, sebab para pelaut yang bertugas
di kapal negara tidak mungkin minum sampai mabuk di tengah pelayaran.
"Uih,
minum di atas kapal ini enak juga ya!"
"Jadi begini toh rasanya mabuk..”
"Aku sudah tak sanggup mengayunkan pedang..”
"Ternyata kalau mabuk, membuka 'Gerbang' untuk ambil minuman pun malas
dilakukan ya..”
Mereka
adalah empat iblis: Leonor, Pastra, Argenta, dan Jean-Jacques.
"Indah
sekali pemandangan ini... begitu damai..” kata Ryo dengan senyum kaku.
"Benarkah?"
sahut Abel dengan tatapan curiga.
"Lalu
kenapa iblis-iblis itu ada di geladak kapal kerajaan ini?"
"Karena
Jean-Jacques membuka 'Gerbang' dan mereka keluar darinya..”
"Yang
kumaksud bukan 'bagaimana', tapi 'mengapa'“
"Kalau itu... aku juga tidak tahu”
Ryo
hanya bisa menggeleng.
Tiga
puluh menit sebelumnya, setelah berangkat dari ibukota Hanlin menuju Atinjo
Grand Duchy, Ryo dan Abel menikmati sore di atas geladak. Ryo sibuk
mengutak-atik "Cincin Terbang" yang ia beli di Dawei, sementara Abel
berlatih pedang.
Tiba-tiba,
tanpa tanda apa pun, sebuah 'Gerbang' hitam pekat terbuka, dan keluarlah empat
iblis itu.
"Pas sekali tempatnya," ujar Leonor.
"Benar," jawab Jean-Jacques.
"Tempat yang cocok untuk eksperimen," tambah Pastra.
"Dan cukup luas untuk berlatih pedang," gumam Argenta.
Dan
setelah itu... mereka malah berpesta minum.
"Ryo, ini salahmu karena tidak menghentikan
mereka," tuduh Abel.
"Itu bukan salahku!" protes Ryo panik.
"Siapa yang pernah mengalahkan keempatnya?"
"Y-ya, memang aku..”
"Kalau begitu, siapa yang secara realistis bisa
menghentikan mereka?"
"Y-ya...
cuma aku..”
Ryo
melirik ke arah empat iblis yang minum dengan riang. Mereka ada di
kapal ini pasti karena ada hubungannya dengan dirinya, tapi menghentikan
mereka? Menghadapi satu lawan satu saja sulit, apalagi kalau keempatnya
sekaligus.
Itu mustahil.
Lagipula, mereka iblis.
Para awak kapal, termasuk Kapten Ra Wu, sempat terkejut
melihat kedatangan mereka. Namun begitu sadar bahwa para iblis itu tidak
merusak kapal atau menyakiti awak, mereka kembali bekerja seperti biasa. Hanya
satu kalimat beredar dari mulut ke mulut:
"Itu kenalan Duke Rondo”
Dan semua orang berhenti mempermasalahkannya.
Tentu saja, hal ini makin membuat Ryo tertekan. Karena
memang benar, para iblis itu mengenalnya. Walau sebagian besar kenalan yang
berulang kali mencoba membunuhnya.
Ryo
memberanikan diri bertanya.
"Um...
boleh tanya sesuatu?"
"Apa itu, Ryo?" jawab Leonor.
"Kau juga mau minum?" tawar
Jean-Jacques.
Argenta bahkan
sudah menyodorkan cawan untuknya.
"Tidak, terima kasih. Maksudku... kenapa kalian
minum di sini?"
"Seperti yang kau lihat, pesta minum," jawab
Leonor dengan wajah polos.
"Yang kutanyakan, kenapa kalian memilih tempat
ini?"
"Untuk eksperimen," jawab Pastra singkat.
"Eksperimen apa?"
"Menguji apakah minum di atas kapal bisa membuat
mabuk”
"...Hah?"
Pastra menjawab dengan serius, seakan itu penjelasan yang
sempurna.
"Memangnya iblis bisa mabuk karena alkohol?"
tanya Ryo.
"Kalau menonaktifkan sirkuit dekomposisi,
bisa," jawab Pastra.
"Sirkuit dekomposisi?"
"Sistem yang memecah alkohol dan racun”
"...Oh
begitu," Ryo mengangguk sambil berpikir.
Setidaknya
ia mendapat informasi baru: iblis kebal racun, kecuali mereka sendiri yang
memutuskan untuk menonaktifkan mekanisme itu. Mungkin berguna
suatu hari nanti.
Ryo kembali ke sisi Abel.
"Mereka bilang sedang menguji apakah minum di atas
kapal bisa bikin mabuk”
"Aku dengar," jawab Abel.
"Kalau sirkuit dekomposisi dimatikan, iblis bisa
mabuk”
"Itu juga kudengar”
"...Itu saja”
Ryo kehabisan kata-kata.
"Aku ingin tahu kenapa mereka memilih kapal ini, dan
kapan mereka akan pergi. Tapi kau bahkan tidak menanyakannya," gumam Abel
sambil menghela napas.
"A-aku juga berpikir itu penting, tapi... mereka
tampak begitu menikmati pesta minum, jadi kupikir... biarlah..”
"Begitu ya..”
Mereka berdua hanya bisa menarik napas panjang.
Tiba-tiba
Leonor berdiri tegak, wajahnya berbinar.
"Baiklah, kesimpulan eksperimen sudah jelas! Ryo, ayo kita bertarung!"
"Hah?!"
Ryo
melongo.
"Tidak bisa. Kau sedang mabuk”
"Kalau kuaktifkan sirkuit dekomposisi, aku bisa
sadar kembali”
"Orang
mabuk selalu bilang mereka tidak mabuk!"
"Hmm..”
Ryo
menunjuk Abel.
"Lihatlah
Abel. Dia selalu bilang dirinya bukan maniak bertarung. Apa menurutmu
benar?"
"Orang
yang bilang begitu biasanya justru maniak bertarung," jawab Leonor serius.
"Persis.
Orang tidak pernah sadar tentang dirinya sendiri”
"Hm... masuk akal. Baiklah, kalau begitu nanti saja.
Saat kita bertemu lagi”
Dengan logika penuh tipu muslihat, Ryo berhasil lolos.
Tak lama, keempat iblis itu kembali masuk ke dalam
'Gerbang' dan pergi begitu saja.
"Haaah... akhirnya selesai. Tapi sebenarnya, apa
maksud semua ini?" gumam Ryo lega.
"Hei, Ryo," panggil Abel.
"Apa?"
"Tadi kau bilang aku maniak bertarung”
"Itu hanya cara agar mereka pergi! Dalam hati aku
menangis karena harus mengorbankanmu begitu”
"Hmph..”
Abel
menatapnya dengan curiga, tapi tak melanjutkan.
Mereka
sama-sama tahu, seandainya para iblis itu benar-benar mengamuk, semua orang di
kapal kecuali Ryo akan mati dalam sekejap.
"Kenapa mereka muncul di sini ya..”
"Aku juga tidak tahu”
"Kalau makhluk tidak normal melakukan hal tidak
normal... bisa jadi itu pertanda sesuatu yang jauh lebih besar sedang mendekat”
"Aku tidak suka bunyinya”
Keduanya hanya bisa menggeleng bersama.
Kedatangan para iblis itu meninggalkan kebingungan bagi
Ryo dan Abel.
