The Water Magician Bahasa Indonesia (WN) - Chapter 0707

Chapter 0707 - Tawanan Abel II


“Si…silakan duduk, Yang Mulia Abel, Yang Mulia Duke Rondo”

Tuan rumah ruangan itu, Marquis Nyusha, mempersilakan Abel dan  Ryo ke sofa.

Meski tuan rumah, keringatnya bercucuran hebat.

“Sebenarnya, aku datang kemari tanpa lebih dulu memberi tahu Marquis Nyusha,”
kata Lord Aubrey.

“Dugaanku juga begitu,” sahut Abel sambil mengangguk seolah itu hal yang wajar.

Marquis Nyusha jelas tidak pernah membayangkan penguasa tertinggi Handal Union, Lord Aubrey, akan tiba-tiba muncul.

Tentu, kedua negara tidak sedang saling membuka perang. Kesenjangan kekuatan nasional memang besar, tetapi mereka tetap negara tetangga. Bila pemimpin negara hendak berkunjung ke negeri tetangga, semestinya ada negosiasi pendahuluan yang layak.

Semestinya… tapi nyatanya tidak.

“Lagipula aku ini cuma seorang Regent,” ujar Aubrey santai. “Jadi kukira tak masalah datang santai ke negeri tetangga”

“Yang didatangi sepertinya kerepotan, ya?” ucap Abel.

“Begitukah?” Aubrey pura-pura tak melihat wajah Marquis Nyusha dan tersenyum.

Sementara duel kata-kata Abel dan Aubrey saling tebas,  Ryo duduk manis di sebelah Abel diam, rapi menyeruput kopi dengan wajah sok kalem.

“Waktu menerima laporan itu pun, aku sempat mengira mustahil,” kata Aubrey.

“Laporan?” tanya Abel.

“Bahwa King Abel muncul di arena negosiasi Fort Zarlash

“Mendengar itu, Anda langsung dari ibu kota Jakelea?”

“Benar. Kalau kabar itu sahih, mengawal perjalanan Yang Mulia melintasi wilayah kami adalah bentuk hospitality yang layak bagi tamu kenegaraan”

“Begitu rupanya”

Abel tersenyum tipis, lalu menambah, “Aku berterima kasih atas atensi itu, tapi aku rasa tak perlu pengawalan. Tak usah merepotkan diri”

“Tidak bisa begitu. Andai terjadi sesuatu atas diri Yang Mulia di wilayah Union, akibatnya akan gawat”

“Artinya ada kemungkinan sesuatu terjadi?”

“Tentu kami menjaga ketertiban sebaik mungkin. Namun bukan tak mungkin negara ketiga memanfaatkan kesempatan untuk menjalankan intrik”

Aubrey menyinggung kemungkinan Empire mencoba mencelakai Abel di wilayah Union.

“Memang menyeramkan,” ujar Abel.

“Bukan begitu?” balas Aubrey, mengangguk.

(Macan dan naga saling intai… pusaran intrik dan siasat terasa sampai ke sini), batin  Ryo dengan posisi penonton. Kopinya nikmat; selagi tidak menyangkut dirinya, ia menikmati adu wacananya sebagai hiburan.

Tentu, ia tidak bisa selamanya jadi penonton.

“Seperti Anda tahu, di sisiku ada sang Duke. Dengan begitu, kukira tak mudah bagiku untuk ‘dibunuh’,” kata Abel menyeret  Ryo masuk percakapan.

“Oh tentu. Duke Rondo Sang Silver, Sang ‘Icefall’ namanya masyhur. Jadi benar, Andalah petualang yang kami hadapi waktu itu,” ujar Aubrey.

Yang dimaksudnya jelas pertempuran di Duchy of Inberry.  Ryo kala itu berhadapan dengan Aubrey.

Identitas “Duke Rondo =  Ryo” belum terlalu tersebar. Bahkan sebelum misi ke Western Nations, sempat beredar rumor “Duke Rondo tidak ada” Orang-orang dalam Royal Castle tahu cukup banyak tentang  Ryo yang lalu-lalang di istana, namun kontra-intel milik Marquis Heinlein terlalu rapat sehingga informasi susah bocor.

“Lord Aubrey tampaknya datang dengan sekitar sepuluh ribu ksatria,” ucap Abel.

“Ya. Pengawal pribadiku,” jawab Aubrey.

“Agak banyak untuk sekadar pengawal”

“Apakah?” Aubrey tertawa.

“Marquis Nyusha, Anda tak ragu membiarkan sepuluh ribu elit Union menyeberang perbatasan?”

“Tidak ada laporan begitu padaku. Yang sampai kepadaku hanya ‘misi diplomatik harus lewat perbatasan dengan segera’,” jawab Marquis jujur.

“Benar, aku datang untuk urusan diplomatik,” sambung Aubrey. “Aku minta pengawalan sesedikit mungkin, tapi para penanggung jawab menambah ini-itu, jadinya segini. Mungkin agak kebanyakan, ya”

Benar-benar muka tembok frasa yang pas untuk Lord Aubrey.

“Meski begitu, jumlahnya masih kurang,” kata Abel.

“Hm?” alis Aubrey terangkat.

“Andai Duke kami serius, jumlah itu cukup untuk dijadikan mayat dalam tiga detik. Tidak memadai untuk ‘menemui’ku, bukan?”

“Aduh, ngeri sekali Yang Mulia bicara”

“Tentu, hanya bercanda”

“Jelas, aku paham hanya bercanda”

Keduanya tertawa riang.

Di samping itu,  Ryo bisa melihat Marquis Nyusha bergetar nyata. Kasihan juga, gumamnya dalam hati tetap sebagai pengamat. Selama tak menyambar dirinya, ia santai saja. Akhir-akhir ini pun ia sudah terbiasa; sejak misi ke Western Nations, sering bersinggungan dengan mantan kaisar Empire Rupert dan mendiang High King Union, Robert Pirlo.

Lalu Lord Aubrey menjatuhkan “bom”.

“Sejujurnya, kami ingin mengundang Yang Mulia ke ibu kota”

“…Maaf?” Abel sedikit memiringkan kepala. Ia benar-benar belum menangkap bidikan Aubrey.

“Kami hendak mengundang King Abel ke Jakelea, menampilkan persahabatan antara Kingdom dan Union di hadapan negara-negara,” jelas Aubrey sambil tersenyum.

Sampai di situ, Abel pun paham.

Mereka ingin menunjukkan pada Kingdom bahwa ‘kami menawan rajamu’?
Kemungkinan itu ada. Lalu meminta tebusan model begitu.
Entah minta uang tebusan atau penyerahan wilayah apa pun itu, bila kami menurut, wibawa kerajaan terjun bebas.
Begitulah.

 Ryo mengangguk pada kesimpulan Abel.

Sejarah Bumi punya beberapa contoh. Yang paling terkenal: Richard Si Hati Singa. Dalam perjalanan pulang dari Perang Salib Ketiga, ia ditangkap Leopold V dari Austria dendam lama dari pengepungan Acre. Inggris pun akhirnya membayar tebusan luar biasa; di saat bersamaan, Philippe Auguste dari Prancis dan Heinrich VI dari Romawi Suci menghasut adik Richard, John, untuk merebut takhta yang berujung penggerusan wilayah Inggris di benua dan penguatan kekuasaan Prancis. Mengangkat pangeran tak cakap di negeri tetangga agar mudah diretas wilayahnya sebuah karya intrik yang “indah”.

Namun yang perlu diputuskan sekarang adalah situasi di dunia Fai ini.

Mari kita “setuju dikawal”.
Jadi kita menelan umpan?
Ya. Kita dapat bergerak dengan pengawalan setidaknya sampai Jakelea. Kalaupun disergap, aku yang menjaga. Akan baik-baik saja.
Lawan kita sepuluh ribu elit.
Tak masalah.

Dalam catur atau shogi, langkah terkuat sering kali: menelan umpan lawan. Jika lawan pemain lemah, ia girang. Tapi jika lawanmu juara dunia, atau pemegang mahkota abadi, ia justru curiga: “Mereka paham bidikan saya, kenapa mau masuk? Ada taktik yang tak kulihat? Perangkap?” dan ketenangannya pun terkikis. Mengusik ketenangan lawan adalah dasar duel.

Aubrey jelas menilai tinggi Abel buktinya datang dengan sepuluh ribu pengawal. Bila Abel “masuk” ke langkah Aubrey, itu saja bisa menggoyahkannya.

Abel memahami arus pikir  Ryo lewat Resonansi Jiwa.

Kalau begitu, mari kita “liburan” ke Jakelea.
Kedengarannya menarik.

Abel mengangguk tipis, lalu bersuara,
“Aku menerima undangan ke Jakelea”

“Eh…” Bahkan Lord Aubrey tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Ia yakin Abel akan menolak mati-matian namun ternyata diterima. Mengapa?

Wajah Aubrey hanya menyimpan heran sekejap. Setelah itu, ia tak punya pilihan selain berkata:

“Kami berterima kasih atas kesediaan Yang Mulia”

 



Previous |           | Daftar Isi |           | Next |

Posting Komentar