Postingan

KETIKA DUA OTAKU YANG BERTOLAK BELAKANGAN JATUH CINTA: VOLUME 1 – PROLOG

 *‘…Sampai kapan aku akan terus melakukan ini?’*


Hatori Karin mendapati dirinya memikirkan hal itu sambil membiarkan pandangannya berkelana ke sekeliling.


Bagian dalam McDonald’s dipenuhi riuhnya malam. Gelombang suara percakapan menghantam telinganya tanpa jeda. Di depan kasir, para pegawai sibuk melayani pesanan, sementara dari dapur terdengar letupan kecil minyak yang mendesis. Tawa melengking anak-anak yang baru pulang dari bimbel, decitan kursi yang digeser tanpa ditahan, suara kertas pembungkus burger yang diremas di tangan seseorang. Semua itu bercampur dengan BGM toko yang terus mengalun, membuat lapisan kebisingan terasa semakin tebal. Dan tentu saja—meja tempat Karin duduk pun tak luput dari keramaian itu.


“Seriusan!? Yang bener aja, itu nggak oke banget—”


Dengan suara sedikit lebih keras dari biasanya, Karin menyetujui keluhan temannya, lalu menundukkan pandangan ke kentang goreng di depannya.


Topik pembicaraan teman-temannya sama seperti biasa: cerita tentang seseorang di kelas, gosip yang tercampur rumor, kebohongan, dan bumbu berlebihan. Kalau ia tidak ikut tertawa bersama mereka, rasanya ia akan terlihat menonjol. Tanpa sadar, sudut bibirnya pun terangkat membentuk senyum.


“Kamu lihat nggak? Dia jilat guru lagi tuh.”


“Iya kan? Nyebelin banget, sumpah.”


Teman-temannya saling melempar komentar seperti itu. Karin menyeruput cola-nya, tersenyum samar sambil mengangguk. Apa pun jawabannya, sebenarnya tidak akan berarti apa-apa. Bahkan wajah orang yang sedang mereka bicarakan pun terasa samar di ingatannya—ia tak benar-benar bisa membayangkannya dengan jelas. Tapi kalau ia tidak ikut menimpali, bahkan diamnya pun akan terlihat mencolok. Dan itu jauh lebih menakutkan baginya.


“Iya, iya, terus—”


Topiknya terus mengalir tanpa putus. Setiap kali seseorang berkata, “Parah banget!”, pola berikutnya selalu sama: semua orang tertawa.


Karin hanya mengikuti arus itu. Dengan bibir tetap tersenyum, ia menenggelamkan rasa tidak nyaman yang perlahan menyebar di dalam dadanya.


Sambil memainkan ujung rambutnya yang dicat warna milk-tea beige, ia melirik ke sekeliling dan menyadari sekelompok anak SMA laki-laki mencuri pandang ke arahnya. Tatapan seperti itu bukan hal asing baginya. Awalnya ia merasa malu sekaligus sedikit bangga, tapi sekarang ia sudah terbiasa.


Berpura-pura tidak menyadarinya, Karin menghela napas kecil.


Ia telah membalik dunianya yang biasa saja di masa SMP dan melakukan debut SMA yang mencolok. Ia kira setelah itu hari-harinya akan menyenangkan. Debutnya memang berhasil—untungnya—namun yang ia dapatkan hanyalah kesenangan sesaat yang cepat menguap, dan waktu-waktu seperti ini: sesi gosip tanpa makna.


*Apa sih yang sebenarnya kulakukan…* pikirnya, mencoba kembali fokus pada percakapan. Tapi sesi membicarakan keburukan orang lain masih terus berlanjut. Rupanya ada seseorang di antara mereka yang benar-benar tidak mereka sukai.


Dengan senyum sopan dan respons samar, Karin membuka halaman yang sudah ia tandai di ponselnya.


Itu adalah papan buletin guild dari game online yang belakangan ini ia mainkan. Di “Mad Renders”, guild tempat Karin berada, ada aturan untuk membagikan aktivitas dan jadwal anggota melalui papan buletin resmi di situs game. Tanpa sadar, ia sudah terbiasa mengeceknya setiap kali ada waktu luang.


Oh, Shamu-san mau ke area tambang sekarang? Enak banget…


Sambil membaca rencana hari itu, Karin menghela napas iri. Shamu-san—yang juga tergolong pemain baru seperti dirinya—sepertinya akan pergi berburu bersama para senior guild.


Kalau tadi aku langsung pulang, aku bisa ikut berburu juga… Aku pengin kumpulin material dan beresin gear-ku cepat-cepat…


Jam di sudut layar menunjukkan pukul 20.00. Kalau ia pulang sekarang, masih mungkin untuk ikut.


Apa aku pamit aja ya? Bilang alasan asal terus cabut? Nggak, nggak… itu nggak mungkin…


Sesaat, pikiran untuk meninggalkan teman-temannya terlintas. Namun segera ia tepis.


Mengutamakan game daripada dunia nyata jelas bukan hal baik. Tapi kalau harus duduk dalam percakapan tak berguna seperti ini, rasanya bermain game jauh lebih berarti. Lagipula, ia juga punya teman di sana. Meski… ia belum pernah bertemu mereka langsung, bahkan tak pernah voice call sekalipun.


“Karin.”


Saat ia melamun, Shidou Remi—teman berambut cokelat pendek yang sedari tadi juga sibuk dengan ponselnya—memotong percakapan.


“Hm? Kenapa?”


Karin mematikan layar dan mendongak.


“Antingmu lucu banget deh.”


Remi menunjuk telinga Karin, tiba-tiba mengganti topik.


Terasa agak dipaksakan, tapi mungkin Remi juga mulai bosan dengan gosip. Karin mengikuti alurnya.


“Hah? Oh, ini? Kebetulan nemu kemarin. Lucu, kan?”


“Lucu banget! Beli di mana? Nanti kita beli yang kembaran yuk.”


“Boleh.”


Dari sana, topik berpindah dari gosip ke anting dan merek favorit mereka.


Sekilas, Remi melirik Karin dan tersenyum hanya dengan matanya. Sepertinya rencananya berhasil.


Remi adalah teman terdekat Karin sejak awal masuk SMA. Mereka langsung akrab dan kebetulan sekelas dua tahun berturut-turut. Sekarang hampir setiap hari bersama.


Kalau harus menggambarkannya, Remi adalah ekstrovert sejati—ramah, supel, dengan kemampuan komunikasi yang luar biasa. Karena itu, orang-orang di sekitarnya pun cenderung tipe yang terbuka.


Karin banyak terbantu olehnya. Berkat Remi, ia punya lebih banyak teman dan menjalani kehidupan SMA yang ramai. Meski imbalannya adalah waktu-waktu kosong seperti ini, Karin menerimanya. Semua pasti ada sisi minusnya.


“Oh ya, Karin. Kamu ada waktu setelah ini?”


Saat percakapan mereda sejenak, Remi bertanya.


“Setelah ini?”


Kata-kata Karin sempat tersangkut di tenggorokan.


Malam ini ia punya janji di game dengan salah satu senior guild yang sering membantunya. Ia tak boleh terlambat.


Janjiannya jam 23.00, kan? Kalau begitu masih aman…


Setelah memastikan jadwal di papan guild, ia menjawab, “Ada, kok.”


Sebenarnya ia ingin segera pulang, tapi ia tak ingin menolak Remi.


“Jadi, waktu libur musim panas kita kan ikut goukon bareng anak Sumikou? Kamu ingat nggak Numata-san?”


Mendengar nama itu, Karin spontan menarik napas.


Nama yang sebenarnya tak ingin ia ingat.


“Ah… iya.”


Dengan senyum pahit, ia menunduk.


Liburan musim panas lalu, ia diajak Remi ikut goukon bersama klub baseball SMA Teknik Sumiyama. Ia tak ingin pergi, tapi Remi memohon karena kurang orang.


Numata Koji, siswa kelas tiga Sumikou yang ia temui di sana, tampaknya menyukainya. Sejak itu, ia terus mengirim DM lewat Minsta, mengajaknya kencan dengan gigih. Tapi sifatnya kasar dan memaksa, jelas bukan tipe Karin. Jadi ia terus menghindar dengan jawaban samar.


“Karin, kamu nolak ajakan Numata-san terus ya?”


“…Ya.”


Karena dia maksa. Bukan tipeku. Dan kalau sendirian dengannya, siapa tahu dia ngapain.


Alasan itu hanya berputar di kepalanya. Ia menutupinya dengan senyum samar.


“Dia dari tadi bilang pengin ketemu kamu. Kalau kamu kosong, mau nggak ketemu sekarang? Yuki-kun ngechat aku.”


“Hah? Tapi… ketemu berdua mendadak gitu nggak aneh?”


Karin mengaduk es yang mulai mencair dengan sedotan.


Seharusnya tadi ia tanya dulu sebelum bilang ada waktu. Sekarang sulit menolak. Teman-temannya ikut menyemangati, membuat jalan mundurnya semakin sempit.


Remi lalu menangkupkan tangan memohon.


“Aku juga ikut! Yuki-kun juga datang kok. Cuma sebentar aja. Please!”


“Ugh…”


Akhirnya Karin sadar—yang sebenarnya ingin Remi temui adalah Yuki-kun.


Tokunai Yuki, siswa kelas tiga Sumikou yang tampan dan agak berkesan berandalan. Remi sangat menyukainya. Katanya mereka sudah berciuman, tinggal selangkah lagi pacaran. Karin tak ingin menyinggung kejanggalan itu.


Jujur saja, ia malas. Tapi ia juga ingin mendukung Remi.


Kalau Remi ikut juga… harusnya aman…


Ia pun setuju.


Namun—


*


…Seharusnya tadi aku menolak.


Beberapa jam kemudian, Karin menyesal pahit sambil menatap punggung Numata yang berjalan di depannya.


Tangan besar pria itu menggenggam pergelangan tangannya erat, menariknya menuju jalan yang diterangi lampu neon merah muda dan ungu. Tujuannya jelas.


Ia mencoba melawan, tapi tak berdaya.


Remi dan Tokunai Yuki sudah menghilang sejak tadi di karaoke. Kini ia sendirian dengan Numata.


Kenapa aku begini sih…


Tak tegas. Tak bisa mengatakan benci. Kalau orang lain, pasti sudah berteriak minta tolong.


Distrik hotel sudah di depan mata.


“Ayo dong, jangan bikin salah paham. Masuk aja.”


Saat Numata mencoba menariknya paksa, suara familiar terdengar dari belakang.


“Maaf… orang itu kenalanku. Ada masalah?”


Karin menoleh kaget.


Di sana berdiri seseorang yang tak pernah ia bayangkan.


Seseorang yang biasanya hanya ada di sudut pandangannya di kelas.



Seseorang yang ia kira tak akan pernah berhubungan dengannya.


Namun saat itu, di mata Karin, ia tampak begitu bersinar.


Seperti pahlawan dalam game—begitu dapat diandalkan—

Posting Komentar