The Water Magician Bahasa Indonesia (WN) - Chapter 0662

Chapter 0662 - Amarah Ryo


Dua pria di langit itu turun.

Yang satu berambut merah dengan mantel hitam, satunya lagi berambut hitam berjubah putih.

Tekanan dari pria berjubah putih itu nyaris melindas tiga orang tersebut.

Mereka adalah petualang kelas khusus puncak para petualang Dawei, bahkan kerap disebut melampaui manusia.

Namun justru mereka yang merasa hampir remuk oleh tekanan itu.

“Golem-golem itu kupasang untuk mengulur waktu sampai kami tiba”

Kata-kata itu keluar dari pria berjubah putih.

Suaranya tenang… sangat tenang namun itu salah kaprah. Abel, yang selalu berada di sisinya, tahu persis, itu ketenangan yang mengekang amarah luar biasa dengan kemauan baja. Sedikit saja tersentuh, kendali itu akan pecah, dan amarahnya meledak.

“Kalian ini petualang. Kalian menerima permintaan untuk membunuh kaisar dan datang ke sini untuk melaksanakannya. Baiklah. Dalam prosesnya kalian mengalahkan Tuan Ting dan menghancurkan golem-golemku”

Suaranya sedikit bergetar.

“Itu pun masih bisa kuterima. Golem-golemku menunaikan tugas, mengulur waktu sampai kami tiba. Mereka telah menjalankan perannya dengan baik. Tapi kemudian kau!”

Ryo menunjuk penyihir atribut api, Bwon.

“Kau berkata mereka remeh”

Jari yang menuding Bwon mulai bergetar.

“Remeh? Mereka telah menunaikan tugasnya dengan baik. Mengulur waktu sampai kami tiba! Tak ada seorang pun yang berhak menghina mereka!”

Ia menegur dengan jelas.

“Kalian telah menghina golem-golemkku. Aku tidak akan memaafkan kalian!”

Di hadapan Ryo yang dipenuhi amarah, ketiga petualang kelas khusus itu terdiam.

Akhirnya salah satu berbicara. “Lalu apa yang akan kau lakukan, Duke Rondo?”

Yang bicara adalah Bwon. Meski tidak ada perkenalan, ia tahu pria di hadapannya adalah Duke Rondo yang tersohor tekanan macam ini, selain dari Lord Rowon, belum pernah ia rasakan.

“Akan kukalahkan kau dengan pedang dan sihir, demi menuntaskan penyesalan para golem”

Ryo mencabut Muramasa, bilahnya muncul.

Di sampingnya, Abel juga sudah menarik pedang sihirnya namun tampak sedikit bingung.

“Ryo… jadi kau melawan yang kelihatan penyihir api itu, ‘kan?”

“Ya. Dialah yang membakar golem-golemkku. Abel, sisanya kuserahkan padamu. Lakukan sesukamu”

“Ba-bagus…”

Tatapan Ryo penuh kepercayaan total, seolah menyerahkan seluruh sisanya pada Abel. Setelah sedemikian dititipi, Abel tak bisa lagi mengeluh meski yang berarti ia harus menangani dua petualang kelas khusus sekaligus.

“Yasudah”

Dengan gumaman Abel itu, pertarungan pun dimulai.

“Ha… sehebat rumor, ya. Tekanannya luar biasa”

Bwon mengangkat pedang, bergumam.

“Aku juga petualang di kerajaanku. Jadi aku paham”

“Hah?”

“Betapa sulitnya menolak permintaan ketika datangnya dari orang berkuasa”

“…”

“Tetap saja, ada permintaan yang tak boleh diterima”

“Perbedaan pandang”

Bwon menjawab sambil menyunggingkan sedikit senyum sinis.

“Menurutku, justru permintaan yang ‘melenceng dari jalan manusia’ itulah yang sebaiknya sebisa mungkin tidak ditolak”

“Apa?”

“Karena orang lain takkan mengambilnya, maka mereka membayar mahal pada petualang. Tentu, kalau taruhannya nyawaku sendiri aku tolak. Selain itu, ya kuambil”

“Walau akibatnya kau tak bisa lagi tinggal di Dawei?”

“Nanti Yang Mulia Kaisar baru akan memberi amnesti, beres. Sampai saat itu, keluar negeri dulu”

Tampaknya Pangeran Kouri berjanji akan memberi amnesti setelah naik takhta.

“Sayang sekali, kita tak searah”

“Nampaknya begitu”

Ryo menggeleng kecil, Bwon mengangkat bahu.

“Aku ingin bertanya sesuatu”

“Tanya saja. Meski rasanya tak ada kewajiban bagiku untuk menjawab”

“Kalau kau menjawab, nyawamu akan kuselamatkan”

“Begitu ya. Ternyata Duke Rondo orangnya percaya diri”

Ryo menyatakannya begitu saja. Bagi Bwon, jarang ada yang berani berkata seperti itu ia adalah petualang kelas khusus yang menakutkan, dan tak ada orang yang menawar ‘nyawa’ seperti itu padanya.

“Pertanyaanku tentang Lord Rowon”

“Kakek Rowon? Memangnya kenapa?”

“Beliau seorang alkimiawan. Sampai setingkat apa kemampuannya?”

“Sampai setingkat apa? Maksudmu ‘sejauh apa’ itu?”

“Kau salah seorang teratas di Dawei sebagai petualang. Orang yang mencapai puncak suatu bidang melihat pemandangan berbeda. Pengakuanmu terhadap puncak bidang lain pun berbeda. Dengan latar itu, sejauh apa kemampuan alkimia Lord Rowon?”

“Kalau itu mudah. Alkimia Lord Rowon adalah puncak Dawei”

“Seperti dugaanku”

Ryo mengangguk lebar. Ia butuh mendengar itu konfirmasi dari seseorang.

“Di istana, selain Lord Rowon, ada penyihir air?”

“Hah? Tak tahu. Rowon itu dulunya termasuk militer Heimbu. Di level jenderal ke atas, tak ada penyihir air”

“Di Petualang Hall tingkat ‘Khusus’, ada penyihir air?”

“Enggak. Bahkan di ‘Atas’, mungkin juga tidak. Mereka tak perlu jadi petualang penyihir air sangat laku di bisnis. Perjalanan selalu butuh air”

“Jadi benar”

Satu misteri di kepala Ryo luruh secara logis, memang itulah kesimpulannya.

“Satu hal lagi”

“Jangan harap aku terus menjawab”

“Kau dan Lord Rowon, siapa yang lebih kuat?”

“Apa?”

Tatapan Bwon mengeras, aura mengancam meruap.

“Jawab jujur”

Ryo berkata begitu lalu melepaskan tekanan yang selama ini ia bendung, ke tingkat maksimum.

“K… kau…”

Tekanan itu begitu dahsyat hingga petualang kelas khusus pun merasakannya seolah fisik. Ini adalah tekanan yang diajarkan langsung oleh Dragon King Luwin dan pernah dipuji oleh mantan Raja Robert Pirlo.

“Monster… Ya, kakek Rowon itu juga monster! Dia lebih kuat dariku”

“Baik”

“Orang menyebut ‘Six Saints’ itu bukan manusia biasa. Tapi kakek itu di kelas yang berbeda monster sejati”

“Jelas”

Ryo mengangguk dan menarik kembali tekanannya.

“Kau Bangsat…”

“Kau membinasakan golem-golemkku dan menghina mereka. Menjawab beberapa pertanyaan tidak akan membuatmu dimaafkan”

“Cukup!”

Bwon berteriak, lalu melafalkan:

“<Inferno Purgatory>!”

“<Ice Path: 20 Layers>“

Tak terjadi apa-apa.

“Apa!?”

Bwon terperanjat. Di dalam dirinya, sihir sudah disusun dan dilepaskan seharusnya dari tanah, tepat di bawah kaki Duke Rondo, puluhan pilar api menyembur.

Jika diperhatikan, di tanah tampak sesuatu membentang.

“Es?”

“Ya. Kulapisi tanah dengan lantai es. Itu sihir yang kau pakai untuk membakar golem-golemkku barusan, bukan? Sihir yang sama tidak akan berhasil dua kali”

Begitu ucapnya, amarah Ryo seolah memancar keluar setidaknya, begitulah yang dilihat Bwon.

“<Avatar>“

Dua sosok Ryo lain muncul, sama-sama memegang Muramasa.

“Apa itu…”

“Barusan kau menancapkan banyak api ke golem-golemkku, kan?”

Ucapannya tenang.

“Sekarang giliranmu. <Icicle Lance Shower>. <Water Jet Thruster>“

Dari ketiga Ryo termasuk tubuh asli memancar hujan tombak es ke arah Bwon. Bersamaan, dari punggung masing-masing Ryo menyembur air mikro jet yang mendorong mereka menubruk secepat tombak-tombak itu.

Tombak es menghujani, tiga tebasan menyatu seketika.

Yang tersisa, Bwon tertembus tak terhitung tombak es, perutnya ditembus tiga pedang.

“Guh…”

“Sesuai janji, nyawamu tidak kuambil”

Ryo meniadakan Avatar, lalu mengucap:

“<Squall>. <Ice Coffin>“

Bwon pun membeku terkurung dalam peti es.

Di sisi lain, satu pendekar pedang bertarung melawan dua penyihir.

Penyihir berusaha menjaga jarak, pendekar berusaha mendekat itulah dasarnya.

Setiap Abel hendak menerjang Leo Lin (penyihir angin), Barda (penyihir kegelapan) memunculkan <Physical Barrier> di antara mereka. Saat Abel menekan ke Barda, Leo Lin yang membangun <Physical Barrier>. Berulang-ulang begitu.

Sesekali Leo Lin melepas sihir serang. Namun semuanya dipatahkan Abel. Banyak sihir angin tak terlihat, tetapi bukan berarti tak tampak sama sekali udara sedikit berkelip dan terdistorsi bagi pendekar sekelas Abel, itu cukup untuk dibelah tepat waktu. Akibatnya ia hampir tak terluka tapi ia juga belum memberi pukulan penentu.

Jujur, Abel masih mencari jalan keluar.

Saat itu…

“Bwon dibekukan!”

“Apa…”

Di pertarungan sebelah, penyihir api barusan dibungkus peti es oleh Ryo. Barda dan Leo Lin terkejut.

Namun keduanya tetap petualang kelas khusus; bahkan momen itu pun tanpa celah. Sekelas Abel saja tak bisa memanfaatkannya.

Tapi keadaan tak memberi waktu.

“Abel, terima kasih sudah mengulur waktu. Bagian sini selesai, kau boleh habisi sisi sana”

Seorang penyihir air tertentu melontarkan kalimat seperti itu.

“Haah…”

Abel menghela napas kecil.

Dia bukan ‘mengulur waktu’ menunggu Ryo dia memang belum menemukan caranya saja.

Ujaran Ryo itu tentu terdengar bukan hanya oleh Abel, melainkan juga dua petualang yang sedang melawannya.

“Mengulur waktu?”

“Belum pernah aku dihina sejauh ini”

Barda dan Leo Lin sama-sama murka.

“Ya, wajar kalau marah”

Abel paham.

Mungkin Ryo tak berniat memancing, tapi…

“Tidak, bisa jadi memang sengaja? Dia sering bilang, merampas ketenangan lawan adalah dasar paling awal duel…”

Faktanya, keduanya kini dikuasai amarah ketenangan mereka hilang.

“Eh, sihir kegelapannya tak mempan, ya!”

“Kenapa kau tambah memancing…”

Abel makin yakin. Memang sengaja.

Ujar-ujar Ryo itu terdengar jelas wajah Barda mengeras.

“Maaf, temanku bahasanya buruk. Jangan diambil hati”

“Takkan kumaafkan kalian”

Meski Abel sudah meredakan, Barda justru makin marah.

“Sepertinya skill mengejek Abel lebih tinggi daripada aku,” gumam penyihir air itu tak ada yang mendengarnya.

Di balik itu, Barda sendiri merengut. Sejak awal pertempuran, ia mencoba menidurkan pendekar di depannya. Kekuatan mantranya berkali lipat dari yang ia sebarkan ke seluruh komplek kantor gubernur.

Namun tak ada efek.

“Sial, kenapa?”

Barda mengumpat lalu memutuskan.

“Kulepas maksimal”

“Hah?”

Leo Lin terkejut.

“Tunggu”

Mantra dilepas. Leo Lin langsung melakukan resist terhadap <Sleep> berdaya maksimum yang ditembakkan Barda.

Ia berhasil bertahan tetapi performa turun sesaat, kepala pusing, langkah goyah, persepsi ruang kacau. Hanya sekejap namun bagi pendekar seperti Abel, sekejap pun terlalu lama.

Leo Lin menerima hantaman di belakang kepala pingsan.

“Eh?”

Yang paling terkejut justru Barda. Ia memang memprediksi performa Leo Lin akan terdampak, tapi ia yakin bisa menidurkan si pendekar, pertukaran yang baginya sepadan.

Namun pendekar tetap bergerak normal dan Leo Lin justru tumbang.

Lalu Barda pun…

“<Squall>. <Ice Coffin>“

…terkurung di dalam peti es.

Sampai di sini barulah “pemanasan dari pemanasan”

 




Previous |            | Daftar Isi |            | Next |

Posting Komentar