Chapter 071 - Keberangkatan
Saat itu, kebetulan Ryo keluar dari istana kerajaan.
Bukan, bukan karena ia mendengar kabar ada “kedai crepe
baru yang enak” di ruang makan istana lalu tergoda untuk membelinya.
Iya, sungguh, bukan karena itu. Benar, kok?
Begitu ia keluar, di gerbang istana ada tiga orang dan
sebuah kotak yang sudah pernah ia lihat.
Seorang kakek berpakai merah sedang mengeluh, sementara
sepasang muda-mudi tersenyum kecut sambil mengawasinya, dan kotak itu diam
saja.
Para penjaga pun tidak bersikap arogan, malah terlihat
sangat minta maaf, tapi jelas-jelas tidak bisa mengizinkan.
Pada dasarnya, para penjaga istana memang serius dan
patuh aturan.
Karena itu, demi menyelamatkan kedua belah pihak, Ryo pun
memutuskan untuk campur tangan.
"Ano, Merlin-san?"
"Hm? Oh, putra kesayangan Raja Peri... eh, maaf, ini
istana kerajaan, sebaiknya kusebut Duke Rondo ya”
"Tidak perlu, panggil saja Ryo. Tapi, ada masalah
apa?"
"Ya, aku hanya bilang ingin bertemu dengan temanku
lama, King Abel. Tapi penjaga ini tidak mau membiarkanku masuk”
Itulah yang dikatakan Merlin.
Di belakangnya, Roman dan Nadia hanya bisa tersenyum
kecut.
Mereka tentu tahu, tidak semudah itu bertemu langsung
dengan seorang raja.
"Itu sebabnya saya sudah bilang, kami sedang
menghubungi atasan, jadi mohon tunggu sebentar lagi. Mohon Duke juga bisa
menyampaikan agar beliau menunggu”
Sepertinya memang sudah ada seorang penjaga lain yang
berlari melapor ke atasannya.
Kalau ditunggu sebentar, seharusnya mereka akan diizinkan
masuk.
"Kalau
begitu... apa perlu saya yang bertanggung jawab mengantar mereka langsung ke
Abel? Bagaimanapun
kami kenalan, dan saya yakin Abel pasti mengizinkan mereka masuk”
"Apakah
itu tidak masalah, Duke?"
"Tidak
apa. Sampaikan
saja ke atasanmu kalau Duke Rondo membawa mereka ke Raja”
Ryo mengangguk pada penjaga.
"Oh, terima kasih”
"Maaf, Ryo-san”
"Terima kasih banyak, Ryo-san”
"Sebagai orang yang pernah menyegelkanku, memang
pantas dihormati”
Merlin, Roman, dan Nadia berterima kasih. Dari dalam peti
mati, suara Regna terdengar kagum.
Suara dari dalam kotak itu mengejutkan para penjaga,
meski mereka tak berani menunjukkannya.
Akhirnya, Ryo pun membawa tiga orang dan sebuah kotak itu
menuju ruang kerja Raja.
Lima menit sebelumnya, Ryo baru saja keluar. Karena itu
Abel sempat curiga ketika ia kembali, tapi begitu melihat rombongan di
belakangnya, ia langsung mengerti.
Namun permintaan Merlin membuatnya mengernyit.
"King Abel, maukah kau membawaku juga ke negeri
Barat?"
"Tuan Merlin ke negeri Barat?"
Abel melirik sekilas ke arah Ryo.
Ryo buru-buru menggeleng. Tentu saja ia belum pernah
bilang pada siapapun kalau Abel berniat pergi ke negeri Barat dengan kapal
Skíðblaðnir.
Tatapan Abel seakan menanyakan: apa kau sudah
membocorkannya?
"Aku dengar ada kapal riset dari Barat yang datang.
Kalau itu kapal riset, pasti akan kembali ke Barat, kan? Aku ingin menumpang”
"Begitu
rupanya”
Abel
mengangguk mendengar penjelasan Merlin.
Memang,
rumor soal kapal Skíðblaðnir sudah tersebar sangat cepat di ibukota, bahkan
tanpa ada pengumuman resmi dari pemerintah.
"Terus
terang, tidak sulit membawamu. Tapi... apakah kalian berdua tidak masalah
dengan itu?"
Abel
menatap Roman dan Nadia yang berdiri di belakang Merlin.
Mereka
berdua adalah orang yang lari dari cengkeraman Gereja Barat, jadi tentu saja
mereka tidak bisa kembali ke negeri Barat.
Mungkin suatu hari nanti bisa, tapi sekarang jelas belum
aman.
"Kami
ingin Merlin-san tetap tinggal bersama kami..”
"Tapi
beliau sudah mantap dengan keputusannya..”
Roman dan Nadia hanya bisa menggeleng pelan.
"Aku sudah menyaksikan pernikahan kalian. Tidak ada
penyesalan lagi. Dan aku tak ingin mengganggu kehidupan baru kalian”
Ucap Merlin.
Ya, memang selama Ryo dan Abel terlempar ke negeri Timur,
Roman dan Nadia sempat menikah.
Sebagai orang biasa, mereka hanya mengadakan upacara
kecil di kota Rune.
"Lagipula, dungeon milikku sudah kutinggalkan
terlalu lama. Sesekali harus kujenguk, kalau tidak nanti dungeon itu bisa
merajuk”
"Dungeon... bisa merajuk?"
Ryo kaget mendengar kata-kata Merlin. Ia tidak tahu
apakah itu hanya kiasan atau sungguh-sungguh.
"Sebenarnya aku berniat menggunakan kekuatan peti
mati ini lagi, seperti waktu aku mengantar putra kesayangan Raja Peri. Tapi,
kali ini ia menolak”
"Itu sudah sewajarnya. Kalau untuk orang yang
menyegelkanku, aku tak keberatan membantu. Bahkan kalau itu permintaan Raja
Iblis, mungkin masih kupikirkan. Tapi kau, kakek merah, aku tak punya alasan
menuruti”
"Lihatlah! Dia selalu mengikutiku, tapi saat penting
justru tak mau menolong”
Merlin mendengus kesal.
Dari luar, keduanya sama-sama keras kepala.
"Kalau begitu, bagaimana kalau minta Nadia yang
seorang Raja Iblis bicara padanya...?"
"Menolak”
"Eh...? Kenapa?"
"Pokoknya tidak”
Merlin
menolak tegas usul Ryo.
Nadia
hanya bisa tersenyum kecut, begitu pula Roman.
"...Seperti
kakek yang gengsi menunjukkan kelemahan di depan cucunya”
Ryo berbisik sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Merlin melirik peti mati, lalu menatap Ryo.
"Putra kesayangan Raja Peri, bukalah segel peti mati
ini”
"Hah?"
Ryo
kaget mendengar permintaan itu.
"Aku akan menunjukkan kekuatanku, supaya dia tunduk
padaku”
"Menarik! Kalau bisa, cobalah!"
"Jangan! Istana ini bisa hancur total”
Merlin
menantang, Regna menyambut, tapi justru Ryo yang paling masuk akal.
Akhirnya
Abel yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Benar, aku tak bisa membiarkan kalian bertarung di
sini. Lebih baik kuizinkan saja Merlin-dono dan peti mati itu... Regna-dono,
ikut berlayar dengan Skíðblaðnir. Keberangkatan sepuluh hari lagi”
Sebuah keputusan raja.
Tiga orang itu menunduk hormat.
"Nyaris saja jadi masalah besar”
Setelah rombongan Merlin keluar, hanya Ryo dan Abel yang
tertinggal di ruang kerja raja.
Abel masih harus menghadapi setumpuk dokumen yang
menunggu tanda tangannya.
"Padahal
kudengar Merlin-dono orangnya lembut..”
"Sepertinya
beliau sedang kekurangan tidur, jadi agak sensitif”
"Kekurangan
tidur?"
Abel
mengernyit.
"Para
Majin biasanya tidur dalam hitungan ratusan tahun. Tapi Merlin-san kabarnya
sudah ribuan tahun tidak tidur. Bahkan iblis Jean Jacques pernah bilang, Majin
akan melemah kalau kurang tidur. Jadi mungkin sekarang Merlin-san sedang lemah”
"Kalau itu kondisi lemah, maka sungguh luar biasa. Memang pantas disebut Majin”
Abel
menggeleng pelan.
"Itu
sebabnya Abel juga harus cukup tidur. Kurang tidur itu tidak baik”
"Aku
baik-baik saja. Sejak kembali dari negeri Timur, aku sudah bisa mengatur waktu
tidur”
Jawaban
Abel membuat Ryo tercengang.
Lalu ia menegaskan,
"Benar saja, Abel jadi manja!"
"Hah?"
"Dulu kau rela mengorbankan tidur demi negara,
bekerja tanpa henti. Tapi sekarang... sungguh memalukan!"
"Entah kenapa aku merasa sedang disalahkan..”
"Rakyat kerajaan setiap hari berjuang keras demi
bertahan hidup. Tapi Raja Abel malah bersantai-santai”
"Tunggu dulu, aku tidak bersantai. Bukankah barusan
kau sendiri bilang kurang tidur itu tidak baik? Aku tidur cukup, lalu kau malah
marah? Itu bagaimana?"
Abel benar.
"Tapi Raja Abel seharusnya tenggelam dalam dokumen,
menandatangani tanpa henti, tak punya waktu istirahat sama sekali. Begitulah
gambaran raja sejati”
"Sepertinya itu gambaran raja yang menyedihkan”
"Itulah cara rakyat merasa dekat dengan rajanya”
"Entah
soal empati, tapi sekarang memang waktuku lebih longgar”
"Itu karena sistem persetujuan berubah saat kau
pergi ke negeri Timur. Bahkan mantan raja pun ikut tanda tangan sekarang”
"Tepat sekali. Karena itulah aku bisa berangkat ke
Barat”
"Jadi ini semua hanya agar bisa pergi ke
Barat!"
"Tujuan?"
"Mungkin saja semua ini ulah Garwin, kau sengaja
dikirim ke Timur hanya untuk menyiapkan jalan pergi ke Barat. Ini semua
konspirasi Abel!"
"Ya ampun, itu terlalu jauh”
Abel dengan mudah menepis dugaan Ryo.
"Lagi
pula Abel, apa Princess Lihia benar-benar mengizinkanmu ke Barat?"
"Ke Barat?"
"Ya. Kau sudah satu tahun penuh tak bertemu karena
sempat terlempar ke Timur”
"Y-ya... aku sudah diizinkan”
Tapi
matanya berkedip gugup.
"Bohong!
Matamu bergerak aneh barusan”
"Ini
bukan bohong. Seperti yang sudah kukatakan, syaratnya asalkan kau ikut menjaga. Tapi...
aku memang dijanjikan harus ikut inspeksi kerajaan bersama Lihia dan Noah
setelah kembali”
"Seperti
yang kuduga... Princess Lihia memang pintar. Tahu tak bisa
melarang, jadi dia pasang syarat”
"Aku juga pikir begitu”
Ryo mengangguk kagum, Abel ikut mengangguk.
Lalu Abel balik bertanya.
"Tapi kau sendiri, bagaimana dengan Sella?"
"Sella? Dia hanya menitipkan oleh-oleh”
"Ah..”
"Sella pernah ke Barat sebelumnya. Jadi dia banyak cerita”
"Seperti
yang diharapkan dari elf”
Abel
mengangguk kagum.
Elf
memang berumur jauh lebih panjang dibanding manusia.
Mereka tahu, bahkan nenek Sella, tetua hutan barat, sudah
hidup lebih dari dua ribu tahun.
Tak ada yang tahu usia pastinya.
Sepuluh hari kemudian, di pelabuhan Whitnash.
Tempat itu penuh sesak, layaknya festival pembukaan
pelabuhan.
Siang itu, kapal kerajaan akan berangkat menuju negeri
Barat.
Dan
diumumkan bahwa King Abel sendiri ikut serta.
Hubungan
dengan Barat memang membaik sejak misi utusan bersama negara-negara pusat
sebelumnya.
Sekarang, hubungan itu akan ditingkatkan lagi.
Rakyat percaya, kerajaan akan melangkah hingga ke Barat.
Masa depan tampak cerah!
Memberi harapan seperti itu juga salah satu tugas raja.
Abel, sebagai raja, menjalankan peran itu dengan
sempurna.
Di
satu sudut, seorang pria berjubah putih sedang berbincang dengan seorang elf
perempuan.
"Jadi kita akan sampai ke Benua Kegelapan juga ya.
Aku saja belum pernah, jadi iri padamu”
"Kalau suatu saat jalur resmi sudah dibuka, ayo kita
pergi bersama”
"Benarkah? Janji, ya? Harus janji!"
"I-iya, tentu”
Sella menatapnya penuh tekanan, Ryo hanya bisa tersenyum
dan mengangguk.
Di sudut lain, Abel sedang diperkenalkan dengan kapten
kapal Skíðblaðnir.
"Merupakan kehormatan besar bisa menyambut Raja Abel
yang masyhur”
"Kapten Paulina, titipkan perjalanan ini padamu”
Kapten wanita itu berambut pirang kusam, dipotong pendek,
dengan mata hitam yang tajam.
Kemudian ia memperkenalkan wakilnya.
"Ini wakil kapten Yaya. Dalam situasi apa pun, dia
atau saya yang akan memimpin”
"Saya Yaya. Mohon percayakan Skíðblaðnir pada kami,
Yang Mulia Abel”
"Wakil kapten Yaya, kuandalkan padamu”
Pria itu sebaya dengan Paulina, sedikit lebih pendek,
tapi terlihat gesit dan penuh semangat.
Terakhir, Paulina memperkenalkan perwira navigasi utama.
"Ini Rokya, perwira navigasi utama. Dialah yang akan
memimpin pembukaan jalur pelayaran antara Barat dan negara-negara pusat”
"Perwira navigasi utama Rokya. Merupakan kehormatan
bisa berperan dalam pembukaan jalur yang akan terus berlangsung puluhan,
ratusan tahun ke depan”
"Rokya-dono, demi keselamatan kapal-kapal yang akan
mengikuti, kumohon pilih jalur dengan hati-hati”
Rokya
menunduk hormat.
Di
belakang Abel berdiri Queen Lihia bersama Pangeran Noah.
Noah
yang baru berusia tiga tahun menatap ayahnya penuh kagum, sementara Lihia
membelai kepalanya sambil tersenyum hangat.
Meski kehidupan keluarga kerajaan penuh beban dan
keterbatasan, di sana tetap ada sebuah keluarga yang hangat.
Di sudut lain, dua kapten kompi Ksatria Kerajaan berdiri
mengamati.
Biasanya satu kompi berisi 50 ksatria, tapi kali ini
hanya 25 orang pilihan dari masing-masing kompi. Total ada 50 ksatria, dipimpin
dua komandan.
Zack Cooler dan Scotty Cobuck, teman lama Abel sejak
sekolah, kini memimpin pengawalan ke Barat.
"Aku tak akan mengkhianati kepercayaan Lady
Sella!"
"Zack, tugas kali ini tidak ada hubungannya dengan
Lady Sella”
"Meski
begitu!"
"Benar-benar
tidak masuk akal”
Zack memang sejak kerusuhan di ibukota sudah jatuh hati
pada Sella. Tapi perasaan itu tak pernah ia ungkapkan. Ia hanya berusaha
menjadi ksatria yang pantas di sisinya.
Scotty yang tahu Sella dan Ryo saling menyukai hanya bisa
tersenyum pahit.
Dari belakang, komandan ksatria, Donthan, menepuk bahu
keduanya.
"Kuandalkan kalian”
"Tentu!"
"Dengan nyawa kami”
Mereka menunduk hormat.
Di sisi lain, tiga orang dan sebuah kotak berdiri agak
terpisah.
"Roman, Nadia, hiduplah bahagia”
"Merlin-san juga jaga kesehatan”
"Datanglah
main lagi nanti”
Suasana
benar-benar seperti kakek melepas cucu-cucunya.
Kotak itu tetap diam mengawasi.
Sungguh pemandangan yang aneh.
Akhirnya, King Abel naik ke Skíðblaðnir.
Tentu saja itu menjadi upacara tersendiri.
Sang raja menaiki tangga khusus yang dipasang, bukan tali
tambang, sambil melambai ke rakyat yang berdesakan di pelabuhan.
"Yang
Mulia!"
"Hidup
King Abel!"
"Selamat
jalan!"
Diiringi
sorak sorai rakyat yang penuh semangat, kapal Skíðblaðnir pun berangkat menuju
negeri Barat.
